Senin, 1 Februari 2010

Sehabis Hujan di Awal Februari

Matahari berkilauan di daun-daun kenanga
menari di antara genangan jingga
sebentar lagi malam
merekam jejak kita pada kenangan
atau hanyut bersama kelam.

Tapi lirih suaramu seperti rinai hujan yang tak ingin berhenti
seperti butiran air yang jatuh di rerumputan
mengajakku tenggelam
derai airmatamu kembali berkilauan
menggenangi tubuhku dengan kenangan.

Bukankah senja telah mengubur semua yang silam
malam datang dengan menggenggam rembulan
menyiapkan tempat untuk kita bersulang
lalu kita saling memandang
bintang-bintang yang ada di mata kita.

2010

Sabtu, 23 Januari 2010

Ketika Kamu Tertidur

Ketika kamu tertidur, aku di sisimu masih terjaga
merangkai bait-bait puisi tentang kita
hingga malam semakin larut gulita
kusulam metafora dalam rajutan kata
berharap ada sebuah mimpi indah tercipta.

Kutatap wajahmu, kamu begitu pulas terlena
di ujung bibirmu senyum masih tersisa
seperti sekelopak kecil bunga sakura
kupungut bunga itu dengan kecupan mesra
di lembaran sajak kujadikan tandabaca.

Sebab itulah di sajakku tumbuh bunga-bunga
sebuah perjalanan di taman-taman surga
sebab keindahan tak ada habisnya, tak ada matinya
terangkai makna bagai karya pujangga
di penghujung malam kupanjatkan sebagai doa.

Ketika kamu terjaga, kubacakan seuntai bait cinta
kusaksikan sinar matamu menjelma bintang kejora
wajahmu putih ceria, pagi mengembang dalam cahaya
dan itulah bagian terindah dari puisi yang kucipta
ketika kamu tersenyum bahagia.

2010

Rabu, 20 Januari 2010

Kujalani Kekasih

Kujalani kekasih di jalan setapak hatimu
hasratku adalah sungai sepanjang pengembaraan berliku
mengalir bersama arus kerinduan dan doa
sampai muara; laut atas namamu
bahagia aku di keluasan cintamu. Bahagia sekali
dalam sajak yang kubacakan berkali-kali
di hatimu segala menjadi prasasti
segala kata terpahat abadi.

Kususuri pantai hingga jejak kakimu
aku menunggu. Hingga kaugulung ombak ke dalam kalbu
menyertakan kelepak merpati yang membawa surat-suratmu
alangkah indahnya tulisan tanganmu
kaulukis senja di lengkung langit, kaubawa malam kepadaku
kaunyalakan bintang-bintang dengan api cinta
dengan apa kubalas hembusan angin laut
bukankah aku telah berlayar di kedalaman semestamu.

2010

Minggu, 17 Januari 2010

Puisi di Atas Pasir

Ingin sekali menulis puisi di pinggir laut ini
dan kubayangkan engkau di sana duduk menanti
ombak-ombak yang kurangkai.

Kauraih alunan ombak itu seperti meraih lenganku
sungguh kurasakan jemarimu di tiap deburnya
mengusap kecemasan di wajahku.

Lalu puisi itu kutulis di atas pasir
ombak berkejaran meraihnya.

Maka dengarlah gemuruh ombak tanpa henti memecah karang
membacakan satu puisi yang kukarang.

Deburnya tak pernah reda
agar kukirim getarnya pada hatimu.

Buihnya tak pernah surut
agar kubasahi rindu di matamu.

Gemuruhnya tak juga berhenti
untuk kubisikan cinta di telingamu.

2010

Sabtu, 16 Januari 2010

Tercipta untuk Mencintaimu

Ketika kautatap mataku begitu dalam
rembulan menuliskan kisahnya di lembaran malam
bintang-bintang sebagai tandabaca, tentang kalimat cinta tanpa akhir
kau tanyakan padaku: adakah waktu untukku
bukankah sudah menjadi takdir
waktuku tercipta untuk mencintaimu.

Malam demi malam kita lewati penuh kenikmatan
sebuah perjalanan ke surga
percakapan tak ada habisnya, tak ada matinya
hal-hal kecil segalanya bermakna
kita saksikan: setangkai rembulan tumbuh menjadi purnama
kita pun bermandi cahaya di keheningan malam.

Lalu kaupetik butir-butir cahayanya
kaujadikan hurup-hurup doa
kautaburkan di pelupuk mataku dengan dua pucuk jarimu
menjelma sepucuk surat dengan kata-kata mutiara
terangkai indah bagai karya pujangga
lihatlah lingkar mataku, bersinar karenanya.

Kau pun bercerita tentang jejak pengembara
menghabiskan waktu di padang sahara dan hutan belantara
untuk cinta abadi pada sang kekasih hati
kau bertanya padaku: adakah waktu untukku
bukankah sudah menjadi prasasti
kau tercipta untuk waktuku.

2010