Arsip tahun
29 Desember
Kau memandangku seperti telaga
bola matamu adalah perahu yang mengantarku
ke lubuk hatimu. Lalu kutambatkan cita-cita
dalam lingkaran cincin yang kukenakan di jari manismu.
Kusatukan hidupku dalam ikatan cinta denganmu
seindah doa dan restu hujan yang bertasbih di hari perkawinan kita
seindah melati bertaburan di atas pelaminan
taman-taman indah kita ciptakan dalam kehidupan kita.
Rumahku surgaku. Kamu bidadariku
mendampingiku sepanjang waktu. Waktu yang seolah tak pernah bergerak
tetapi diam-diam menandai kita dengan usia dan uban perak.
Namun cinta tak pernah menua
seperti sebutir intan yang tak pernah kehabisan cahaya
berkilauan tak henti-henti berkilauan abadi.
2009
Sketsa Embun di Kelopak Mawar
Setangkai mawar pink
di kelopaknya embun mengerling
pagi yang dingin.
Angin mengendap di antara ranting
embun terayun ke samping
engkau menatap dari jendela, senyummu selembar bening.
Aku menatap sepasang mata
di sudutnya embun tak pernah mengering.
2009
Sketsa Taman Menjelang Siang
Matahari jam sembilan lewat satu
berayun-ayun di antara daun jambu
di sebuah taman yang tenang
di mana suara-suara sedang khusyuk sembahyang.
Seekor kupu-kupu bermandi cahaya
di atas aster kuning dan merah
angin menggodanya, diayun-ayunkannya tangkai bunga
ke kanan dan ke kiri. Kupu-kupu hanya tersenyum
tetap bertengger di atas kuntum.
Langit yang biru, lembaran awan selembut beludru
sesekali meneduhkan bangku taman
kita duduk di situ
menghabiskan waktu berjam-jam.
Lihatlah, kupu-kupu itu
hinggap manis di jari manismu.
2009
Aku Hanya Mampu Mencintaimu
Aku bahagia tinggal di hatimu, katamu
mengukir lembahmu dengan sungai yang mengalir dari telaga di mataku
sebuah mataair untukmu, di tepinya ada mahligai yang selalu diterangi cahaya
dari jendela-jendelanya hanya terlihat indahnya pemandangan
setapak jalan cinta yang naik turun di lembah-lembah romantika
seperti sebuah gelombang di mana kita berayun menghabiskan masa.
Jantungku berdebar indah untukmu, kekasihku
dawai-dawai yang tak pernah kehabisan getar, berirama melantunkan rindu
menggema nada-nada cinta merangkai simfoni kehidupan kita
pada gemuruh air terjun, pada angin yang berhembus di daun-daun
pada kicauan burung-burung dan rumpun bambu yang bersenandung
senantiasa kita dengar musik anggun yang menggetarkan jiwa.
Hanya kamu yang ada di hatiku, di dekapku
sebuah perapian yang selalu menyala dalam kobaran cinta
kehangatan adalah menggenangi pipi dengan airmata
mengubahnya menjadi gerimis yang melukis pelangi di pinggir senja
tubuhmu adalah selimut bagi jiwaku, aku adalah api perwujudan panasmu
engkau adalah gunung yang indah, aku adalah magma yang membara.
Biarkan cahaya matahari jatuh di wajahmu, bisikmu
aku bahagia memandang keindahan alam dari jendela hatimu, serumpun sajak cinta
sehamparan dunia dan masadepan yang menjulang hingga nirwana
bukankah kauciptakan hujan untuk menghapus debu-debu masa lalu
bukankah kaubalut langit dengan pelangi dan kaupetik setangkai mawar untukku
dan sungguh, aku hanya mampu mencintaimu.
2009
Prambanan – Prasasti Cinta
Pagi di pelataran Prambanan
sinar mentari menari di celah-celah pahatan
merahasiakan siluet tubuhmu, lekuk-lekuk gairah
semampai langkah menapaki undakan yang indah
pada relief, persetubuhan kita membeku dalam keabadian.
Batu-batu terhampar di pelataran
bukanlah sebuah reruntuhan, ialah jejak hidup, ialah hurup-hurup
terurai dari kalimat-kalimat cinta yang tak ada habisnya
bongkahan prasasti yang akan selalu kautemukan dalam hatiku
walau seribu tahun terkubur abu merapi.
Permaisuriku, kuagungkan dirimu dalam sebuah arca dewi
seluruh kerajaan hatiku kunobatkan hanya untukmu
satu candi adalah cinta, seribu candi adalah persembahan abadi.
2009
