Arsip bulan September, 2009

Cupang

Telah kutandai matamu dengan telaga dan rembulan bening
agar kuberteduh dan mengusap lekang wajahku dan membiarkan bayangku
meresap ke dalam sunyimu.

Telah kutandai bibirmu dengan pantai dan perahu
akulah laut yang tak bosan mengecup-ngecup sampai gairahku mendidih
agar kuberlabuh dan menambat tali rinduku dan membiarkan kehidupanku
bersandar di pelabuhanmu.

Telah kutandai hatimu dengan taman dan bunga mawar
kutanam sebatang cinta kugembalakan kupu-kupu di langit berawan
dibawanya butir-butir gerimis untuk kugambar pelangi
di lengkung senyummu.

2009

Sebilah Daun di Sudut Jendela

Sebilah daun basah terhembus lewat jendela
jatuh di mejaku. Secangkir teh yang kusedu menguap karenanya.
Seperti mendengar sesuatu. Ada yang tersedu.

Kudengar airmata turun menangis sepanjang senja. Mengucur deras.
Ada gemuruh sesekali memanggil namaku. Kaukah hujan itu?

Kutadah airmata itu satu-satu, kubalut lukanya dengan cahaya rembulan
Kudoakan menjadi embun.

Teh kureguk kembali dalam desah panjang.

Mana sebilah daun tadi?
Di luar jendela, rembulan di atas pepohonan memandangku tersenyum.
Diselimuti embun.

2009

Secangkir Mentari

Secangkir mentari hangat kusesap dengan nikmat
kau menemaniku, sambil sesekali mengaduk potongan senja
yang mengambang di mataku

suara-suara pulang di pelabuhan
lembayung tersangkut di pucuk-pucuk kapal. Meninggalkan bayang

Dengan hati-hati, kau lepaskan selembar demi selembar ombak
tinggal malam telanjang, kau buat aku bergejolak.

Angin malam diam-diam menggelitik hamparan pantai
kau tersipu. Malam begitu cepat sampai

Lalu kau tuang secangkir rembulan.

2009

Romantisme Hujan

Ketika hujan turun dan temurun ke relung kalbu
dengarlah nyanyiannya mewakili sajak-sajakku
susah payah kurangkai ribuan lagu
agar kau dengar gemuruh kalimat rindu
tak pernah henti berkilatan dalam batinku
rasakanlah dalam erat dekapanku.

Payung-payung menari di jalanan
rampak menitik air berjatuhan, desau angin berbisik sayup di dahan
basah dedaunan, basah bunga-bunga, basah seluruh pelataran
menaburkan kalimat indah bermekaran dalam genangan
pada kata cinta kutemukan airmata menetes perlahan
lalu kaubiarkan wajahmu kuseka dengan kecupan.

Tiap hujan kita melangkah di celah gemuruhnya
mendengarkan deru hujan merasakan angin menari dan bercanda
kadang kita tembus derasnya dengan terguyur dalam mesra
berguncang-guncang jejak air di atas payung kita
iramanya seperti derap sajak menyusun bait cinta
begitu lembut begitu merdu begitu syahdu.

Kita menyukai hujan. Kita jatuh hati pada hujan
hujan menghapus debu-debu bimbang di kelopak-kelopak kembang
mengubah catatan lara menjelma loncatan airmata bahagia
bertaburan rintiknya di taman menggenangi jejak-jejak kita
hujan turun dan cintaku menuliskan tetesnya di hatimu
berkaca-kaca tatapanmu. Biarkan cinta menitik abadi.

2009

Tags: , , ,

Terimakasih karena Mencintaiku

Terimakasih karena mencintaiku
membiarkan matahariku memeluk hangat dirimu
merestui hadirku di pagimu.

Terimakasih karena mencintaiku
membiarkan hatimu
ikhlas menjadi rumah bagi hatiku.

Terimakasih karena mencintaiku
membiarkan matamu
tempat paling sejuk untuk jiwaku berteduh.

2009

Tags: , , , , , , ,