Sajak Malam
Selendang di pinggang angin malam, semilir dingin menyentuh kulitku
aku berjalan di pedalaman kelam bersama cahya bintang-bintang
aldebaran, betelgeus, sirius dan kelap-kelip kerling matamu di orion
menuntun langkahku di hamparan malam yang sunyi dan rawan
lalu kau datang dalam semerbak melati, lembut menelusup di kedua lengan
tiada rangkaian kata terucapkan tiada kata-kata kutuliskan
malam lebih indah tanpa puisi.
Kau bidadari turun di tengah malam dengan selendang ditanggalkan
membawakan mimpi-mimpi indah tentang ranjang di kahyangan
bergaun sutra dewangga bermahkotakan bulan setengah lingkaran
diam-diam ku tenggelam di wajahmu, malam lebih indah tanpa rembulan
angin malam lembut berderaian dari rambutmu
kelopak matamu berkedip, bulumatamu lentik, di situ imajinasiku terjepit
tak bisa melepaskan diri.
2009
