Arsip bulan November, 2009
Selembar Malam
Selembar malam yang kamu bentang dalam bentuk kelambu
sebaris gerimis yang kamu taburkan di atas wangi kenzo bambu
sebilah jiwa yang senantiasa menggores sudut mataku
ingin kusenandungkan sebagai stanza lagu.
Parasmu elok bidadari senyummu indah baiduri
suaramu merdu menggetarkan dawai sanubari
berbisik-bisik angin di jendela menuliskan satu lagu
sebait lirik samar berdencing di sudut bibirmu.
Malam tak pernah terasa sunyi sebab nafasmu adalah simfoni
mengatur ritme gerimis dalam barisbaris puisi
arungi malam menelusup lekuk tubuhmu
berlayar dalam detak jantungmu menyelami lubuk hatimu.
2009
Ciuman Senja
Adakalanya senja cuma sekumpulan awan yang tak berarti hujan
seperti lukisan mati lantaran warnanya tak lagi bercahaya
pepohonannya kaku dan bunga-bunganya terkubur layu
kemudian sunyi menyeretnya kelam dan tiada.
Secangkir teh menguap di mataku membuyarkan lamunan
seperti mulutmu melumat seiris senyum di ujung bibirku
begitu cepatnya ciuman menjadi kenangan
rasanya ingin terus mengulang.
Sebentar, tahan pelukanmu dan rasakanlah
gemuruh sajak yang menggema di setiap ledakan jantungku
agar taman menemukan kembali bara dalam senja yang jingga.
Adakalanya kita harus mengubah senja dengan ledakan kembang api
memberi cahaya pada lukisan agar warnanya tak mati
seperti cinta yang tak henti bergelora untuk membuatnya abadi.
2009
Seindah Apakah Cinta
Kamu tanya padaku seindah apakah cinta
bulan tak mampu menjelaskannya
diriasnya bumi dan ombak di laut telaga
dengan cahaya perak lembut memesona
belum cukup menyebutnya surga.
Kamu tanya padaku seputih apakah cinta
melati hanya tertunduk tanpa kata
kelopakkelopak mungilnya hanya mampu
mengabdi di lekuk tubuhmu
ikhlas sebening pagi, ingin seputih hatimu.
Kamu tanya padaku sedalam apakah cinta
tujuh lautan tak berani kasih jawaban
hanya dengan terjun ke palung hatiku
kamu akan tahu betapa di kedalaman mana pun
hatiku indah penuh dengan kamu.
2009

