Desember
Awal bulan Desember
awan berduyun mengangkut kuntum hujan
sesekali menyemai gerimis di padang jiwaku, sesekali menabuh gemuruh
angin berhembus seperti kenangan, menggetarkan bulu roma
di antara guguran flamboyan yang masih merah
kupungut untukmu satu kembang. Senyummu berderai sumringah:
Bunga ini masih segar dalam ingatan
ketika kausematkan di rambutku.
Kamu membuatku selalu kagum: pemandangan indah ataukah lukisan
tatapanmu laksana hujan, bergemuruh ke dalam kalbu
berkilatan dalam pikiran, dan tetesan airmatamu
sempurna membasahi kaca jendela hatiku. Di situ kulukis kamu
bidadari yang turun dalam gerimis.
Sejak itu setiap tetes gerimis berubah menjadi bunga
yang bermekaran di pinggir bibirmu, di sudut matamu
di telapak tangan, di dalam dada, di setiap gairah, di setiap desah
di setiap jejak langkah.
Gerimis di jiwaku menjelma padang bunga
lalu jalan setapak menuju nirwana.
2009

