Jumat, 18 Desember 2009

Di Jendela Kereta

Malam menggulung senja ketika peluit pemberangkatan menggetarkan gerbong-gerbong kereta. Aku memandang jendela, lampu-lampu kota berkelebat dan meniada, siluet pepohonan lenyap di kegelapan dan tiada. Menyisakan aku sendiri malam perjalanan tanpa kata. Masih saja wajahmu melekat di jendela , menorehkan lambang cinta. Bekas ciumanmu mengembun di kaca.

Lampu-lampu kota kian lindap ditelan jarak. Aku menelponmu bicara selaksa sajak, begitu berat menutup cakap. Bunyi roda dan sambungan rel yang terus berderap, percuma saja mengganggu suaramu. Lalu dalam lamunan, hanya bayangmu di lensa mata.

Tak ada yang menemani perjalanan ini selain musik rindu, yang sengaja diciptakan gerbong-gerbong kereta lewat roda, derit pintu dan gesekan baja, desau angin di terowongan, gemuruh loko yang memacu kecepatan, dan peluit yang memekik dalam kelam. Mirip benar musik kereta itu menirukan jantungku, yang  berdegup merindukanmu semata.

2009

Puisi-puisi Lain yang Mungkin Terkait

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply