Kereta Malam
/Gambir/
Memasuki peron. Bangku-bangku tak ada yang kosong. Jam digantung di langit-langit bolong dan jadwal yang suka bohong. Peluit melolong. Kereta datang bak anjing menggonggong. Orang-orang berbondong. Aku menggandeng bayangmu memasuki gerbong.
/Jatinegara/
Ada penumpang yang masih bergegas. Mungkin rindu belum dikemas. Waktu terlalu lekas. Ciuman hanya meninggalkan bekas. Tidak seperti bayang yang tidak pernah lepas. Bayangmu malah bikin gemas.
/Cirebon/
Malam yang larut. Percakapan surut. Hanya gemuruh kereta terdengar sayup-sayup. Bintang-bintang redup. Di kerut wajah-wajah penumpang mimpi bergelayut. Aku pun larut. Bayangmu beringsut tersenyum di sudut.
/Purwokerto/
Kereta tak berhenti lama. Hanya menulis kenangan yang mungkin terlupa, atau digoreng agar tahan lama seperti getuk Sukaraja. Aku asyik saja menatap bayangmu yang tertidur di jendela.
/Kutoarjo/
Semua sedang tertidur. Karenanya tak ada yang terganggu dengkur. Aku memeluk hangat bayangmu sambil duduk terpekur. Sambil menunggu ilham puisi yang mungkin ngeluyur.
/Jogjakarta/
Tiba di pagi kota, bayangmu sampai di sini juga. Dengan kebaya Jawa turun dari kereta. Bunyi gamelan membahana, mengingatkanku saat hari perkawinan kita.
2009
Tags: kereta, kereta malam, malam, rindu, stasiun
