Arsip bulan January, 2010
Ketika Kamu Tertidur
Ketika kamu tertidur, aku di sisimu terjaga
merangkai bait-bait kehidupan kita
hingga malam larut gulita
kusulam metafora dalam rajutan kata
agar mimpi indah tercipta.
Kutatap wajahmu, kamu begitu pulas terlena
di ujung bibirmu senyum masih tersisa
seperti menyimpan sekuntum bunga
kucium bunga itu dengan kecupan mesra
di lembaran sajak kujadikan tandabaca.
Sebab itulah sajakku bermekaran warna
sebuah perjalanan di taman-taman surga
keindahan tak ada habisnya, tak ada matinya
terangkai makna bagai karya pujangga
di penghujung malam kupanjatkan sebagai doa.
Ketika kamu terjaga, kubacakan sebait cinta
kusaksikan sinar matamu menjelma bintang kejora
wajahmu putih ceria, pagi mengembang dalam cahaya
dan itulah bagian terindah dari puisi yang kucipta
ketika kamu tersenyum bahagia.
2010
Kujalani Kekasih
Kujalani kekasih di jalan setapak hatimu
hasratku adalah sungai sepanjang pengembaraan berliku
mengalir bersama arus kerinduan dan doa
sampai muara; laut atas namamu
bahagia aku di keluasan cintamu. Sangat bahagia
dalam sajak yang kubacakan berkali-kali
di hatimu segala menjadi prasasti
segala kata terpahat abadi.
Kususuri pantai hingga jejak kakimu
aku menunggu. Hingga kaugulung ombak ke dalam kalbu
menyertakan kelepak merpati yang membawa surat-suratmu
alangkah indahnya tulisan tanganmu
kaulukis senja di lengkung langit, kaubawa malam kepadaku
kaunyalakan bintang-bintang dengan api cinta
dengan apa kubalas hembusan angin laut
bukankah aku telah berlayar di kedalaman semestamu.
2010
Tercipta untuk Mencintaimu
Ketika kautatap mataku dalamdalam
rembulan menuliskan kisahnya di lembaran malam
bintang-bintang sebagai tandabaca, tentang kalimat cinta tanpa akhir
kau tanyakan padaku: adakah waktu untukku
bukankah sudah menjadi takdir
waktuku tercipta untuk mencintaimu.
Malam demi malam kita lewati penuh kenikmatan
sebuah perjalanan ke surga
percakapan tak ada habisnya, tak ada matinya
hal-hal kecil segalanya bermakna
kita saksikan: setangkai rembulan tumbuh menjadi purnama
kita pun bermandi cahaya di keheningan malam.
Lalu kaupetik butir-butir cahayanya
kaujadikan huruf-huruf doa
kautaburkan di pelupuk mataku dengan dua pucuk jarimu
menjelma sepucuk surat dengan kata-kata mutiara
terangkai indah bagai karya pujangga
lihatlah lingkar mataku, bersinar karenanya.
Kau pun bercerita tentang jejak pengembara
menghabiskan waktu di padang sahara dan hutan belantara
untuk cinta abadi pada sang kekasih hati
kau bertanya padaku: adakah waktu untukku
bukankah sudah menjadi prasasti
kau tercipta untuk waktuku.
2010
Cinta Tak Kenal Waktu
Jam berapa sekarang? Entahlah, jam hanyalah lonceng yang ketakutan pada waktu. Detak jantungku tak kenal waktu berdebar padamu. Tubuhmu yang penuh bunga menggelinjang dalam setiap kata. Membuat sajakku jadi indah. Kulepas metaforamu hingga telanjang, kupakai huruf-hurufku untuk menyelimuti tubuhmu bak kabut pagi. Lalu matahari terbit di celah percakapan kita begitu dekat, begitu nikmat. Bersamamu aku lupa waktu.
Jam berapa sekarang? Entahlah, apakah kita perlu pasang waktu. Cinta tak kenal waktu. Cinta tak punya usia. Jiwaku yang bahagia adalah jiwamu di sajakku, selalu remaja. Begitu enerjik. Keringat menetes dari kalimat-kalimat cinta, mengalir deras di antara metafora dan tatapanmu. Aku hanyut ke dalam sungaimu. Ikhlas tenggelam di palung hatimu.
Jam berapa sekarang? Entahlah, apakah beda siang dan malam. Bersamamu warna langit representasi rona wajahmu. Bintang-bintang adalah butir airmatamu di semesta jiwaku, petunjuk abadiku. Kemana lagi aku akan pergi, sedangkan rumahku adalah kampung halaman di hatimu.
2010
Ketika Kuterpejam Ketika Kuterjaga
Ketika kuterpejam
bayangmu sudah menunggu
di balik kelopak mataku
kaukatakan: aku rindu.
Ketika kuterjaga
bibirmu sedang mengetuk-ngetuk bibirku
kubuka mulutku, kukatakan: I love you
silakan masuk ke dalam hatiku.
2010

