Arsip bulan February, 2010

Gerimis dan Wajah Manis

Seuntai angin mengayun rambut mayangmu, jatuh terurai, tatapanmu menyelinap geulis di antara garis-garis rambutmu, bak sinar matahari di celah gerimis, sebuah teralis yang akan menahanku berlama-lama memandangmu, sebab biasanya akan muncul pelangi melambai padaku menuruni pematang di hatimu, rindang dedaunan menyembunyikan reranting sunyi yang diam-diam ditumbuhi serumpun anggrek, makanya aku suka sekali memandangmu.

Gerimis menuntunku ke dalam tubuhmu. Aku larutkan puisi ke dalam ruhmu. Wajahmu lalu manis sekali, tak ada perempuan memiliki wajah semanis kamu, sungguh. Entah puisi apa yang kutulis, rasanya aku cuma melukiskan gerimis yang menetes di alis matamu. Dan aku, hanyalah setetes air yang terjebak di kelopak matamu, lalu ketika kaukerdipkan mata, aku terbata-bata dalam serangkaian kata-kata, makanya aku suka sekali memandangmu.

Wajah manis, tahukah rasanya menjadi tebu. Mengapa gerimis memilih jadi tetes tebu, penuh kenangan manis di setiap celahnya. Di kehijauan lembah, di antara pagi dan senja, di antara pertemuan yang tak terbilang jumlahnya. Karena itukah pelangi turut hadir dalam senyumnya penuh warna. Kau hanya menjawab dengan tatapan teduh, garis-garis gerimis, indah disinari cahaya pelangi.

2010

Sehabis Hujan di Awal Februari

Matahari berkilauan di daun-daun kenanga
menari di antara genangan jingga
sebentar lagi malam
merekam jejak kita pada kenangan
atau hanyut bersama kelam.

Tapi lirih suaramu seperti rinai hujan yang tak ingin berhenti
seperti butiran air yang jatuh di rerumputan
mengajakku tenggelam
derai airmatamu kembali berkilauan
menggenangi tubuhku dengan kenangan.

Bukankah senja telah mengubur semua yang silam
malam datang dengan menggenggam rembulan
menyiapkan tempat untuk kita bersulang
lalu kita saling memandang
bintang-bintang yang ada di mata kita.

2010