Arsip bulan February, 2010
Sajak Malam
Hati ini tak pernah tertidur, lama bersyukur mencintaimu.
Di kilau kristal matamu langit ungu menyimpan peta perjalananku. Di hamparan malam kujelajahi wajahmu yang anggun dan ungu. Di gagang pintu hatimu yang mengunci alamat cintaku.
Bukankah langit malam lebih indah bila aku memandangmu? Akhirnya bintang-bintang menitipkan cahayanya padamu. Jalan pulangku nampak seakan gugusan bimasakti yang berporos di dadamu.
2010
Gerimis dan Wajah Manis
Seuntai angin mengayun rambut mayangmu, jatuh terurai, tatapanmu menyelinap geulis di antara garis-garis rambutmu, bak sinar matahari di celah gerimis, sebuah teralis yang akan menahanku berlama-lama memandangmu, sebab biasanya akan muncul pelangi melambai padaku menuruni pematang di hatimu, rindang dedaunan menyembunyikan reranting sunyi yang diam-diam ditumbuhi serumpun anggrek, makanya aku suka sekali memandangmu.
Gerimis membimbingku ke dekap tubuhmu. Aku tatap kamu. Wajahmu lalu manis sekali, tak ada perempuan memiliki wajah semanis kamu, sungguh. Entah puisi apa yang kutulis, rasanya aku cuma melukiskan gerimis yang menetes di alis matamu. Dan aku, hanyalah setetes air yang terjebak di kelopak matamu, lalu ketika kaukerdipkan mata, aku terbata-bata dalam serangkaian kata-kata, makanya aku suka sekali memandangmu.
Wajah manis, tahukah rasanya menjadi tebu. Mengapa gerimis memilih jadi tetes tebu, penuh kenangan manis di setiap celahnya. Di kehijauan lembah, di antara pagi dan senja, di antara pertemuan yang tak terbilang jumlahnya. Karena itukah pelangi turut hadir dalam senyumnya penuh warna. Kau hanya menjawab dengan tatapan teduh, garis-garis gerimis, indah disinari cahaya pelangi.
2010
Sehabis Hujan di Awal Februari
Matahari berkilauan di daundaun kamboja
menari di antara genangan jingga
sebentar lagi malam
merekam jejak kita pada pualam
atau hanyut bersama kelam.
Tapi lirih suaramu seperti rinai hujan
seperti jejak yang membekas di rerumputan
mengajakku tenggelam
derai airmatamu kembali berkilauan
menggenangi tubuhku dengan kenangan.
Bukankah senja telah mengubur semua yang silam
malam datang dengan menggenggam rembulan
menyiapkan tempat untuk kita bersulang
lalu kita saling memandang
bintang-bintang yang ada di mata kita.
2010

