Arsip dengan tag ‘cahaya’
Bintang-bintang Kurangkai Untukmu
Rembulan di celah randu tua, kau yang melukisnya di sana, mewarnainya dengan putih mutiara. Deras cahayanya menghanyutkan bayang-bayang rindu di lembah hatiku. Malam adalah musafir yang mencari tempat paling hangat, aku memanah langit agar bintang-bintang jatuh terbakar. Aku unggun bersamamu.
Bukankah langit malam lebih hangat bila kau hamparkan di dadaku?
Kita saling memandang dalam api gelora. Engkau menghapus keringat di wajahku, menggantinya dengan sebuah kecupan, kecupan berbentuk perahu. Berlayar menuju hatiku. Laut di jantungku gemuruh. Ombak di mataku meleleh, hingga hilang seluruh garis pantai.
Dan malam tinggal sebuah andai: bagaimanakah agar malam tak berakhir, kekasih? Apakah dengan mengikat rembulan agar tak terseret ke pinggir, agar tak menyingkir? Aku ingin merangkai lebih banyak bintang untukmu.
Ketika Kamu Tertidur
Ketika kamu tertidur, aku di sisimu terjaga
merangkai bait-bait kehidupan kita
hingga malam larut gulita
kusulam metafora dalam rajutan kata
agar mimpi indah tercipta.
Kutatap wajahmu, kamu begitu pulas terlena
di ujung bibirmu senyum masih tersisa
seperti menyimpan sekuntum bunga
kucium bunga itu dengan kecupan mesra
di lembaran sajak kujadikan tandabaca.
Sebab itulah sajakku bermekaran warna
sebuah perjalanan di taman-taman surga
keindahan tak ada habisnya, tak ada matinya
terangkai makna bagai karya pujangga
di penghujung malam kupanjatkan sebagai doa.
Ketika kamu terjaga, kubacakan sebait cinta
kusaksikan sinar matamu menjelma bintang kejora
wajahmu putih ceria, pagi mengembang dalam cahaya
dan itulah bagian terindah dari puisi yang kucipta
ketika kamu tersenyum bahagia.
2010
Tercipta untuk Mencintaimu
Ketika kautatap mataku dalamdalam
rembulan menuliskan kisahnya di lembaran malam
bintang-bintang sebagai tandabaca, tentang kalimat cinta tanpa akhir
kau tanyakan padaku: adakah waktu untukku
bukankah sudah menjadi takdir
waktuku tercipta untuk mencintaimu.
Malam demi malam kita lewati penuh kenikmatan
sebuah perjalanan ke surga
percakapan tak ada habisnya, tak ada matinya
hal-hal kecil segalanya bermakna
kita saksikan: setangkai rembulan tumbuh menjadi purnama
kita pun bermandi cahaya di keheningan malam.
Lalu kaupetik butir-butir cahayanya
kaujadikan huruf-huruf doa
kautaburkan di pelupuk mataku dengan dua pucuk jarimu
menjelma sepucuk surat dengan kata-kata mutiara
terangkai indah bagai karya pujangga
lihatlah lingkar mataku, bersinar karenanya.
Kau pun bercerita tentang jejak pengembara
menghabiskan waktu di padang sahara dan hutan belantara
untuk cinta abadi pada sang kekasih hati
kau bertanya padaku: adakah waktu untukku
bukankah sudah menjadi prasasti
kau tercipta untuk waktuku.
2010
Selamat Tahun Baru, Dinda
Di subuh nan hening fajar mengambang di jendela
cahaya mengusap perlahan wajahmu – kaupun lembut terjaga
kubelai rambutmu kubisikkan: selamat tahun baru, dinda
di bibirmu yang indah, kecupanku tuntas dalam gemas.
Selembar pagi kau bentangkan di pelataran
sebongkah harapan sebait doa, bunga-bunga penuh warna bermekaran
matahari terbit dari lengkung bibirmu, jiwapun bergelora
aduhai senyumanmu mengispirasi dunia.
2010
Sajak Tahun Baru
Subuh terbangun dengan wajah merona merah
dengan tetes embun yang bergulir di sudut matanya
menyapa tahun baru, tahun terindah, selamat dan sejahtera.
Telah kita lewati dengan bahagia. Sepanjang tahun penuh berkah
jejak peristiwa adalah pujian dan ujian, untuk bersyukur dan bersabar
adalah anugerah: untuk bahagia dan tabah.
Fajar di langit timur membawa sebekal cahaya
Mengetuk pintu rumah kita, angin berhembus mengajak bunga-bunga berdoa
Burung-burung prenjak riang sembahyang di pepohonan.
Mentari bergegas berdiri di pelataran. Senyummu lepas sumringah
cahaya merias wajahmu, wajahmu membekas di wajahku. Ciuman tuntas
sebuah jalan setapak membelah langit biru: untuk kita melangkah bersama.
2010

