Arsip dengan tag ‘istana’
Kata Pengantar Sebelum Tidur
Aku tak bisa menyusun kata
penutup yang indah
untuk mengakhiri percakapan
hanya bisa kutatap matamu
sampai embun.
Bahkan bintang-bintang telah
bergugur
tetapi aku enggan tidur
sibuk menganyam bait demi bait kasih di rambutmu
seribu musim merajut singgasana
di atas kelambu
bukankah malam adalah istana
tempat paling megah
di atas bumi
engkau dan aku selalu bersanding
berbagi cerita berbagi puisi
berbagi doa
menciptakan pagi.
2010
Catatan Malam yang Lama Terlewatkan
Wangi apakah berhembus di jendela? Menyibak catatan yang lama terlewatkan. Malam indah, pertama dalam hidupku. Gerimis dengan butir-butir melati, kau hamparkan di lembah hatimu. Di lengkung senyummu. Di ceruk matamu. Kuperkenalkan diriku: isteriku, aku kekasihmu.
Kita bangun istana dengan sejuta cumbu yang tak kenal lelah. Taman-taman tercipta di bawah pipimu yang merah. Keringat mengalir bagai sungai-sungai indah, lengan-lengan kita seperti jembatan yang merenda satu waktu dengan waktu yang lain. Nafas kita memenuhi kamar lalu mengembun di kaca jendela. Tiba-tiba menjadi gerimis yang melukis pelangi.
Kita melewatinya, menciptakan pemandangan demi pemandangan. Tak pernah ada negeri yang lebih indah untuk dikenang, selain yang kita lewati bersama. Selain yang kita bangun bersama: apa pun namanya, ia adalah nirwana. Tempat paling indah di alam semesta, bersyukur kita penghuninya. Walaupun hanya sebuah surga yang sederhana.
2010
Seindah Apakah Cinta
Kamu tanya padaku seindah apakah cinta
bulan tak mampu menjelaskannya
diriasnya bumi dan ombak di laut telaga
dengan cahaya perak lembut memesona
belum cukup juga menyebutnya surga.
Kamu tanya padaku seputih apakah cinta
melati hanya tertunduk tanpa kata
kelopakkelopak mungilnya hanya mampu
mengabdi di lekuk tubuhmu
ikhlas sebening pagi, ingin seputih hatimu.
Kamu tanya padaku sedalam apakah cinta
tujuh lautan tak berani kasih jawaban
hanya dengan terjun ke palung hatiku
kamu akan tahu betapa di kedalaman mana pun
hatiku indah penuh dengan kamu.
2009

