Arsip dengan tag ‘langkah’
Pantai Berpasir adalah Kanvas Tanpa Akhir
Pantai berpasir
adalah kanvas tanpa akhir
jejakjejak kita tercetak
jadi sebaris sajak.
Pada pasir laut berbisik
mengeja jejak kita
lembut membawanya ke tengah samudera.
Dan di atas karang
lidah ombak membacakan sajak yang kita karang
bukankah selalu kita dengar
gemuruh kalimat cinta berdebar
di dada kita.
Kita
terus melangkah
langkah bagai ombak
tak henti walau
setapak.
2010
Dengan Apakah Harus Kutuntaskan Puisi
Dengan apakah harus kutuntaskan puisi
dengan menggoreskan luka di jari agar mengalir darahku
hingga setiap kata berdebar seperti jantungku. Atau
dengan tetesan keringat yang membungkus punggungku
agar tahu puisi adalah kerja keras mencangkul di tanah cadas
setiap kata tumbuh dari ketulusan berkarya. Atau
dengan airmata yang meloncat-loncat seperti huruf-huruf di papan ketik
mengikuti apa saja yang aku tulis, ia seperti sebuah perasaan
meloncat-loncat di dalam hati lalu meloncat keluar sebagai airmata. Atau
dengan langkah-langkah kita menyeberangi jembatan ke jembatan
yang menyatukan seluruh musim dalam peta perjalanan
setiap kata adalah petunjuk di mana kita hadir bersama. Atau
dengan senyuman yang membuat indah setiap pertemuan
dan pelukan hangat yang menyudahi setiap inci jarak
setiap kata adalah perekat nafas kita ke dalam satu makna. Atau
dengan ciuman sebagai tanda petik setiap kalimat cinta
kalimat yang melahirkan sajak-sajak yang mengalirkan sajak-sajak
sebab cinta tak pernah kehabisan sajak.
2010
Aku Hanya Mampu
/Jalan/
Inilah lembaran yang kita lalui: jalan tak berujung
yang kita tulisi dengan jejak langkah, selamanya melangkah
seperti cinta yang tak mengenal akhir yang tak mengenal menyerah
di situ jejak-jejak menjelma taman dan tetirah.
Aku hanya mampu melangkah bersamamu.
/Lembah/
Kamulah lembah kehidupan di mana kuncup-kuncup melati
senantiasa bersemi, tubuh wangi yang kukecup tiap pagi
embun-embun berbaris di bulu matamu
mengerling sejuk ke dalam kalbu.
Aku hanya mampu bersyukur memandangmu.
/Laut/
Sungai-sungai kuciptakan sungai-sungai yang melambai
di bibirmu pantai segala kerinduanku bermuara segalanya sampai
bukankah cinta itu lambang abadi? di bibirmu sajakku menjelma cium
menjadi ombak di celah-celah lautmu yang anggun.
Aku hanya mampu memeluk gemuruhmu.
/Bibir/
Aku tidak tahu, bagaimana indahnya engkau melukiskan cinta
hanya dengan sebuah lengkung sederhana di bibir
sementara ribuan kata tak sanggup kueja dan kutata
agar bisa kutuliskan di kertas hatimu.
Aku hanya mampu mengecup senyummu.
2010
Penari dalam Mimpi
Sudah kuduga, kamulah penari
yang datang ke dalam mimpi.
Meliuk-liukkan tubuh
lampai berputar memainkan lengan
mengalungkan selendang mayang
mengajakku melantai di antara
bintang-bintang.
Langkah-langkahmu menyulam dalam langkahku
menciptakan rajutan yang menjerat hatiku.
Sudah kuduga, kamulah penari yang datang
mengubah mimpi.
2009

