Arsip dengan tag ‘Persembahan’

Untukmu

Matahari semerah mawar kupetik untukmu di senja itu
: ini untukmu hati yang selalu hangat dibara asmara
selalu merah berlumur darah cinta.

Ini untukmu senja yang sempurna. Sebuah damba
di pelataran rindumu ku berjalan dengan jiwa terhuyung
kamu tersenyum dengan setangkai kuntum.

Ini untukmu jantung berdegup gelisah. Sebuah puisi cinta
rebahlah bersama senja yang terlentang di atas bumi, ranjang bertirai lembayung
di sini kan kuhabiskan malam menatap parasmu yang ranum.

2009

Tags: , , , , ,

Puisi Cinta

Sambil nyeruput kopi panas kunikmati sepotong puisi buatan kamu
masih berasa hangat dan basah bekas ciuman di tiap hurupnya.

Puisi menjelma bunga ketika kupetik setangkai bait untuk kutanam di dada
menjelma cahaya ketika aku gelap memahami maknanya
menjelma getar ketika kunyanyikan sebagai rindu
menjelma bara ketika kusesap aroma nafasmu.

Di depanku kamu masih berdiri. Molek tubuhmu tak berhenti menatapku
Aduh kamu, betapa indah puisi yang kausimpan di sudut-sudut lekukmu.

Tatapan apakah yang kamu rahasiakan di matamu,
………………aku membaca tak habis-habisnya terkesima

Ciuman apakah yang kamu rahasiakan di bibirmu yang merah,
………………aku mengecup tak habis-habisnya gairah

Bisik apakah yang kamu rahasiakan di telingamu,
………………tak bosan-bosannya kudesahkan rayu

Debar apakah yang kamu rahasiakan di hatimu,
………………aku menerjemahkan sampai membuka-buka dada.

“Aku adalah puisi yang kamu tulis,” kamu tak berhenti menatapku.

2009

Tags: , ,

Matahari Pagi

Matahari pagi selalu meyakinkan kita
bahwa untuk setiap malam yang gulita dan panjang
pasti menyimpan sisi terang di ujungnya
Sisi terang yang selalu berbeda dari satu waktu ke waktu yang lain.
Tetapi ada kenikmatan yang hampir sama, ialah kehangatan
Seperti genggaman tanganmu
merapatkan jari-jemari pada getaran cinta
yang bergema di hatiku.

Gerimis kadang datang. Tetapi itu akan memperindah bunga-bunga
Saat kugunting pelangi untuk pita rambutmu
Dan bidadari tak dapat turun ke bumi karenanya
Kamulah pemandangan paling indah
Sedang senyumanmu terekam abadi dalam lukisan Davinci.

Di rerumputan rambutmu, kucium wangi musim semi
setiap kali kusibak tiap helainya, aku menemukan wajahmu
manja berbisik pada angin.  Akulah bidadari itu.

2009

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Bahagiakah Kamu

Bahagiakah kamu, ketika musim hujan tiba, kubukakan payung untukmu
kita saksikan tetes-tetes air berebut jatuh di ujung-ujungnya.

Bahagiakah kamu, ketika bunga-bunga bermekaran, kupetikkan setangkai untukmu
kutuliskan puisi-puisi cinta di kelopaknya, kata-kata indah bertaburan di halaman rumah kita.

Bahagiakah kamu, ketika malam tiba, aku nyalakan api untuk menghangatkanmu
dan kubiarkan kamu bersandar di dadaku.

Bahagiakah kamu, ketika pagi tiba, kubukakan jendela
lalu kita rasakan hembusan angin pagi di antara wangi melati.

Bahagiakah kamu, cincin melingkar di jari manismu
itulah simbol cinta untukmu, hanya untukmu, selamanya di situ.

2009

Tags: , , , , , , , ,