Arsip dengan tag ‘Persembahan’
Kupersembahkan Padamu
Kupersembahkan padamu sekuntum ciuman segar
dalam buket bunga kesukaanmu: aster, krisan dan sejumlah mawar
sebuah puisi kusematkan dalam sebuah lembar
pagi terasa spesial
kurasakan jendela hati terbuka lebar.
Seperti kau memahami bait puisi
ia bukan sembarang bahasa – tetapi sebuah jiwa
puisi tidak disusun dari kata hanya kata
puisi yang membangun kata demi kata dan
menuntaskannya sebagai doa indah.
Seperti aku tenggelam di matamu
seluruh hatiku sibuk mengeja pustaka cinta
pun mulutku tak sanggup bicara
sedangkan tanganku diam-diam sibuk meremas kata
yang kadang menyelinap di jemarimu.
Puisi mengembara perjalanan tersembunyi
melewati samudera di balik tatapanmu
bait-baitnya terurai dalam tiap derai ombak
menciumi pantai-pantai semampai di lekuk tubuhmu
lihatlah jejak kakiku, selalu hanyut bersamamu.
Seperti kau memahami bait puisi
ia ada dalam dirimu, dirimu ada di dalamnya
sebab kerangka puisi tersusun dari tulang-tulangku
dan kau bagian tak terpisahkan
dari struktur tulang-tulang itu.
2010
Untukmu
Matahari semerah mawar kupetik untukmu di senja itu
: ini untukmu hati yang selalu hangat dibara asmara
selalu merah berlumur darah cinta.
Ini untukmu senja yang sempurna. Sebuah damba
di pelataran rindumu ku berjalan dengan jiwa terhuyung
kamu tersenyum dengan setangkai kuntum.
Ini untukmu jantung berdegup gelisah. Sebuah puisi cinta
rebahlah bersama senja yang terlentang di atas bumi, ranjang bertirai lembayung
di sini kan kuhabiskan malam menatap parasmu yang ranum.
2009
Puisi Cinta
Sambil nyeruput kopi panas kunikmati sepotong puisi buatan kamu
masih berasa hangat dan basah bekas ciuman di tiap hurupnya.
Puisi menjelma bunga ketika kupetik setangkai bait untuk kutanam di dada
menjelma cahaya ketika aku gelap memahami maknanya
menjelma getar ketika kunyanyikan sebagai rindu
menjelma bara ketika kusesap aroma nafasmu.
Di depanku kamu masih berdiri. Molek tubuhmu tak berhenti menatapku
Aduh kamu, betapa indah puisi yang kausimpan di sudut-sudut lekukmu.
Tatapan apakah yang kamu rahasiakan di matamu,
………………aku membaca tak habis-habisnya terkesima
Ciuman apakah yang kamu rahasiakan di bibirmu yang merah,
………………aku mengecup tak habis-habisnya gairah
Bisik apakah yang kamu rahasiakan di telingamu,
………………tak bosan-bosannya kudesahkan rayu
Debar apakah yang kamu rahasiakan di hatimu,
………………aku menerjemahkan sampai membuka-buka dada.
“Aku adalah puisi yang kamu tulis,” kamu tak berhenti menatapku.
2009
Bidadari Pagi
Matahari selalu meyakinkan kita
bahwa untuk setiap malam yang gulita dan panjang
pasti menyimpan sisi terang di ujungnya
Sisi terang yang selalu berbeda dari satu waktu ke waktu yang lain.
Tetapi ada kenikmatan yang hampir sama, ialah kehangatan
Seperti genggaman tanganmu
merapatkan jari-jemari pada dawai cinta
yang bergema di hatiku.
Gerimis kadang datang. Tetapi itu akan memperindah bunga-bunga
Saat kugunting pelangi untuk pita rambutmu
Dan bidadari tak dapat turun ke bumi karenanya
Kamulah pemandangan paling indah
Sedang senyumanmu terekam abadi dalam lukisan Davinci.
Di rerumputan rambutmu, kucium wangi kesturi
setiap kali kusibak tiap helainya, aku menemukan wajahmu
manja berbisik pada angin. Akulah bidadari itu.
2009
Bahagiakah Kamu
Bahagiakah kamu, ketika musim hujan tiba, kubukakan payung untukmu
kita saksikan tetes-tetes air berebut jatuh di ujung-ujungnya.
Bahagiakah kamu, ketika bunga-bunga bermekaran, kupetikkan setangkai untukmu
kutuliskan puisi-puisi cinta di kelopaknya, kata-kata indah bertaburan di halaman rumah kita.
Bahagiakah kamu, ketika malam tiba, aku nyalakan api untuk menghangatkanmu
dan kubiarkan kamu bersandar di dadaku.
Bahagiakah kamu, ketika pagi tiba, kubukakan jendela
lalu kita rasakan hembusan angin pagi di antara wangi melati.
Bahagiakah kamu, cincin melingkar di jari manismu
itulah simbol cinta untukmu, hanya untukmu, selamanya di situ.
2009

