Arsip dengan tag ‘rembulan’

Tak Takut Kehilangan

Tak takut aku kehilangan indahnya mentari pagi, embun yang bersujud di sudut dedaunan, kupu-kupu bercumbu di atas bunga, ceracau prenjak di seberang jendela, mungkin gerimis dan pelangi, atau selendang tipis kabut yang berlapis-lapis di lekuk perbukitan, tempatku menulis sajak dan impian.

Tak takut aku kehilangan pesona senja, kilau emas padang ilalang, angin berhembus sepoi-sepoi menyelisir rambutmu, dan burung-burung kembali ke sarang dalam barisan panjang, kehangatan cinta, seperti barisan pengaduanku ketika pulang ke hatimu, menyelesaikan setiap sajak dan persoalan.

Bagaimana mungkin aku kehilangan, padahal kau selalu di sisiku, kutemukan segalanya menjadi lebih indah, segala sajak jadi lengkap. Makanya aku tak takut kehilangan kerling bintang di malam hari, musik jangkerik dan serangga malam, lampu-lampu berpendaran bagai untaian manikam, atau rembulan yang suka menyelinap di antara sajak dan rayuan.

2010

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Malam yang Indah di Bulan Agustus

Ada malam yang kudus pada hembus
angin di bulan Agustus

cahaya rembulan menerobos tarian pinus
menyibak rahasia anggun di wajahmu

aku terpesona

tatapmu cerlang yupiter di antara pisces dan aquarius
seakan kau bidadari yang sedang menatapku

di balik tirai nirwana.

2010

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Indahnya Kehadiranmu

Kaukah yang meminjamkan cantik pada senja, bidadariku? Langit lembayung membentang dari pinggir bibirmu hingga semesta. Kau hiasi malam hingga tiba di beranda. Barisan pepohonan serupa siluet candi, tertegun dan purba. Sayap-sayap hening mengepak dalam kalbu. Aku hilang dalam syahdu.

Desau angin seperti kapas jatuh perlahan seperti lembut belaian. Kaukah yang meminjamkan tangan-tanganmu pada angin? Hanyut menyelusup ke dalam temaram. Sejuk menyelimut seluruh sendiku.

Malam beranjak. Rembulan perak. O, sorot mata yang hanya bisa kutebak sebagai sajak. Sejuta makna menyelinap. Kaupinjamkan pada rembulankah tatapanmu? Lampu-lampu berpendaran, serangga malam mabuk cahaya. Terbakar dan tiada.

Tinggal kita berdua.

2010

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Sehabis Hujan di Awal Februari

Matahari berkilauan di daundaun kamboja
menari di antara genangan jingga
sebentar lagi malam
merekam jejak kita pada pualam
atau hanyut bersama kelam.

Tapi lirih suaramu seperti rinai hujan
seperti jejak yang membekas di rerumputan
mengajakku tenggelam
derai airmatamu kembali berkilauan
menggenangi tubuhku dengan kenangan.

Bukankah senja telah mengubur semua yang silam
malam datang dengan menggenggam rembulan
menyiapkan tempat untuk kita bersulang
lalu kita saling memandang
bintang-bintang yang ada di mata kita.

2010

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Tercipta untuk Mencintaimu

Ketika kautatap mataku dalamdalam
rembulan menuliskan kisahnya di lembaran malam
bintang-bintang sebagai tandabaca, tentang kalimat cinta tanpa akhir
kau tanyakan padaku: adakah waktu untukku
bukankah sudah menjadi takdir
waktuku tercipta untuk mencintaimu.

Malam demi malam kita lewati penuh kenikmatan
sebuah perjalanan ke surga
percakapan tak ada habisnya, tak ada matinya
hal-hal kecil segalanya bermakna
kita saksikan: setangkai rembulan tumbuh menjadi purnama
kita pun bermandi cahaya di keheningan malam.

Lalu kaupetik butir-butir cahayanya
kaujadikan huruf-huruf doa
kautaburkan di pelupuk mataku dengan dua pucuk jarimu
menjelma sepucuk surat dengan kata-kata mutiara
terangkai indah bagai karya pujangga
lihatlah lingkar mataku, bersinar karenanya.

Kau pun bercerita tentang jejak pengembara
menghabiskan waktu di padang sahara dan hutan belantara
untuk cinta abadi pada sang kekasih hati
kau bertanya padaku: adakah waktu untukku
bukankah sudah menjadi prasasti
kau tercipta untuk waktuku.

2010

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,